Dicari agen di seluruh Indonesia - For Fast Response : 0855 402 363 88 (pr) atau 081 328 006 337 (lk) - Siap menerima order anda in syaaAllah


BATASAN MEMUKUL ANAK

Fatwa Asy-Syaikh ‘Ubaid bin ‘Abdillah al-Jabiry حفظه اللّه

 

PERTANYAAN:

Semoga Allah memberi kebaikan kepada Anda, pertanyaan ke-21 ini dari negeri Aljazair, ia bertanya tentang dhobith/ batasan dalam memukul anak?

 

JAWABAN:

Pertama, saya tidak mengetahui tentang dhobit kecuali ada dalil syar’i tentangnya. Namun sepatutnya atas seorang ayah dan wali anak untuk menjadi seorang yang penyayang, lembut, dan pengasih.

Dan dianjurkan untuk tidak dipukul kecuali yang sudah mumayyiz. Yaitu yang telah mencapai usia tujuh tahun. Dan apabila butuh untuk menghukum yang di bawah usia tersebut maka dengan cara mengancam atau pukulan ringan yang tidak membekas bagi anak kecil itu dan tidak menimbulkan sentimen negatif darinya.

Berbeda dengan yang sudah mumayyiz. Mumayyiz mengetahui dan memahami ini salah dan ini benar. Dan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Perintahkan anak-anak kalian untuk melaksanakan shalat ketika berusia tujuh tahun. Dan pukullah mereka (ketika tidak mau melaksanakannya) di saat berumur sepuluh tahun.” INI KAIDAHNYA.

Dan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha dahulu -sebagaimana diriwayatkan Al-Bukhoriy dalam kitab Adabul Mufrod- beliau berkata:

“Sungguh aku memukul anak yatim (yang tidak mau shalat) sampai ia terbentang.”

Yaitu : sampai telentang. Namun bukan maknanya ini adalah pukulan yang keras yang membuat jasad berdarah atau terluka. Tidak lain itu hanyalah pukulan yang membuat ia mencicip rasa sakit dan menjadikan ia merasakan kesalahannya.

Dengan ini kamu wahai penanya –dan yang selainmu dari muslim dan muslimah– hendaknya memahami bahwa tidak halal bagi wali anak yatim –baik dia orangtua laki-laki atau perempuan atau selain keduanya– untuk dikeraskan pukulan atasnya sebagaimana singa mencabik mangsanya.

Sebagian orang kadang mengambil tongkat yang besar lalu memukul anak dari kepala sampai kedua kakinya, dengan pukulan yang keras. Atau ia membantingnya ke tanah dan menginjaknya. Atau ia (wali) meletakkan kaki di kepalanya (anak) dan memukulinya.

Ini keliru. Hal ini tidak boleh. Dan ini adalah haram. Seperti ini jauh dari sikap lemah-lembut.

Tidaklah berbuat seperti ini kecuali seorang yang telah Allah cabut sifat lemah-lembut, mengasihi, menyayangi, dan belas-kasih darinya. Ya (demikian).

 

Sumber: http://miraath.net/questions.php?cat=125&id=2651

 

Alih Bahasa: al-Ustadz Abu Yahya Abdulloh al-Maidaniy حفظه اللّه

stumbleupon digg rss

Sorry, comments for this entry are closed at this time.