Dicari agen di seluruh Indonesia - For Fast Response : 0878 3039 6201 atau 0896 2010 1991 - Siap menerima order anda in syaaAllah

Manfaat Mainan Edukatif Bagi Anak

Mainan Edukatif bagi anak turut berpengaruh dalam proses stimulasi perkembangan mereka. Terutama dalam perkembangan fisik, kognitif ( kemampuan berfikir), keberanian, serta psikososial. Ini penting sekali sebagai tahap awal mengajari pada mereka bagaimana harus cerdas dalam merespon setiap kejadian yang ada dilingkungan sekitar, baik dari apa yang di dengar, di lihat, maupun di rasakan.

Berikut adalah beberapa manfaat mainan edukatif bagi anak, menurut Dra. Mayke S. Tedjasaputra, M.Si. Beliau adalah salah seorang pakar play therapist sekaligus psikolog anak pada fakultas psikologi UI, Yogyakarta.

Berikut pemaparan beliau mengenai manfaat mainan edukatif:

Untuk melatih konsentrasi

Mainan edukatif memang di susun dalam rangka melatih  untuk lebih menyiapkan konsentrasi ketika menggunakan mainan tersebut. Misalnya, ketika seorang anak bermain puzzle, maka konsentrasi dan pandangan matanya di tuntut untuk bisa fokus, supaya ia dapat menyusun puzzle tersebut dengan benar. Dalam tahap ini, secara tidak sadar, seorang anak yang bermain puzzle ia sebenarnya sedang berlajar berkonsentrasi.

Untuk melatih kemampuan motorik

Mainan edukatif akan merangsang sistem motorik halus dan kasar anak. Motorik halus akan ia dapat ketika ia mengambil mainan, meraba, maupun memegang mainan dengan kelima jari yang dimilikinya. Sedangkan rangsangan morotik kasar akan didapat ketika ia menggerak-gerakkan, melempar, maupun mengangkat mainannya.

Untuk mengenalkan konsep sebab akibat

Dalam tahap ini, bisa di ambil contoh, misalnya ketika seorang anak memasukkan benda kecil ke dalam benda yang besar, maka secara tidak langsung ia sedang belajar untuk memahami bahwa benda yang ukurannya lebih kecil bisa muat dalam ruang yang ukurannya lebih besar, dan benda yang lebih besar tidak akan muat jika di masukkan pada benda yang ukurannya lebih. Itu merupakan proses belajar dan memahami dengan cara sederhana tentang konsep sebab-akibat.

Untuk melatih bahasa dan wawasan

Mainan edukatif akan lebih optimal manfaatnya jika diimbangi dengan penuturan secara lisan oleh guru maupun orang tua yang mendampinginya. Nah, di sinilah seorang anak akan mendapatkan tambahan pengetahuan kosa kata dan kemampuan bagaimana harus berucap tentang sesuatu yang diketahuinya.

Untuk mengenalkan wawasan dan bentuk

Tidak diragukan lagi, dengan mainan edukatif, seorang anak bisa belajar untuk mengenal berbagai macam bentuk dan warna.


Nah, bagi para orang tua dan guru, jangan tunggu lagi untuk segera mempersiapkan mainan edukatif bagi anak-anak maupun putra-putri didiknya.

sumber : http://duniaanak.org

Category: 6. Pengetahuan Umum, 7. Belajar Lagi...

PENDIDIKAN ANAK (3)

7⃣ Tahap Ketujuh :
Apabila ia makan dari sebuah bejana, maka katakan kepadanya bahwa hendaklah ia makan apa yang ada di dekatnya.

Di dalam Ash-Shahihain, dari hadits Umar bin Abi Salamah رضي الله عنه, ia berkata : “Aku pernah makan, sedangkan tanganku lari ke sana kemari di dalam shafhah (tempat makan), lalu Nabi صلى الله عليه وسلم pun berkata kepadaku :

يَا غُلاَمُ، سَمِّ اللهَ وَكُلْ بِيَمِيْنِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيْكَ

Wahai anak muda, bacalah basmalah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah apa yang ada di dekatmu”.

8⃣ Tahap Kedelapan :
Biasakanlah ia di dalam kebaikan. Ketika umurnya telah menginjak tujuh tahun, latihlah ia untuk melaksanakan shalat.

Telah berkata Abu Dawud رحمه الله (1/No. 495) :

حَدَّثَنَا مُؤَمَّلُ بْنُ هِشَامٍ، - يَعْنِي الْيَشْكُرِيَّ - حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ، عَنْ سَوَّارٍ أَبِي حَمْزَةَ، - قَالَ أَبُو دَاوُدَ وَهُوَ سَوَّارُ بْنُ دَاوُدَ أَبُو حَمْزَةَ الْمُزَنِيُّ الصَّيْرَفِيُّ - عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ “‏ مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

Muammal bin Hisyam (Al-Yasykuri) telah menceritakan kepada kami. Isma’il telah menceritakan kepada kami, dari Sawwa Abi Hamzah. Abu Dawud berkata : Ia adalah Sawwar bin Dawud Abu Hamzah Al-Muzani Ash-Shairafi. Dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata : Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda : “Perintahkan anak-anakmu untuk shalat ketika mereka berumur tujuh tahun dan pukullah mereka jika menolak ketika berumur sepuluh tahun dan pisahkan tempat tidur di antara mereka”.

Hadits ini sanadnya hasan.

Muammal bin Hisyam seorang terpercaya (tsiqah) sedang Isma’il ia adalah Ibu ‘Ulaiyah seorang yang terkenal dan Sawwar ia seorang yang jujur (shaduq), ia punya beberapa kekeliruan sebagaimana dalam At-Taqrib dan haditsnya bisa dijadikan hujjah selama tidak termasuk dari kesalahannya sedang perawi-perawi lainnya telah dikenal.

Hadits ini punya jalan lain dari hadits Sabrah dalam Sunan Abu Dawud No. 494.

9⃣ Tahap Kesembilan :
Memisahkan tempat tidur anak-anak jika telah berumur sepuluh tahun, sebagaimana hadits sebelumnya.

Bersambung…إن شاء الله

Sumber :
Kitab Nashihatiy Lin-Nisaa’ karya Ummu ‘Abdillah Al-Wadi’iyyah  حفظها الله


http://tamananakshalih.blogspot.com/

 


Category: 1. Tarbiyatul Aulad (Pendidikan Anak)

PENDIDIKAN ANAK (2)


4⃣ Tahap Keempat : 
Ketika anak telah berumur kurang lebih satu setengah tahun, bila ingin minum atau makan, bimbinglah untuk mengucapkan Bismillah dan setelah itu ia akan terbiasa dan dengan sendirinya akan mengucapkan “Bismillah”.

5⃣ Tahap Kelima : 
Apabila engkau dapati anak sudah bisa mengerti rukun-rukun islam dan iman, maka ajarilah ia.

Dalam hal ini tidak dibatasi pengajaran dengan ukuran umur, karena kefasihan dan kecerdasan masing-masing anak berbeda-beda.

Adapun rukun islam adalah sebagai berikut :

Dari Ibnu Abbas  رضي الله عنه , ia berkata : Rasulullahصلى الله عليه وسلم bersabda :

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَأنَّ مُحَمَّداً رَسُولُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ، وَحَجِّ البَيْتِ

Islam dibangun di atas lima perkara : bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa di Bulan Ramadhan dan berhaji ke Baitullah”. [Muttafaqun ‘alaih]


Sedangkan rukun iman adalah :

الإِيمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلاَئِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرَسُوْلِهِ وَتُؤْمِنَ بِالْبَعْثِ الآَخِرِ

Diriwayatkan dari Abu Hurairah berkata, Rasulullahصلى الله عليه وسلم bersabda :

“Al-Iman ialah beriman kepada Allah, malaikat,kitab, rasul-Nya dan beriman kepada hari kebangkitan”. [Muttafaqun ‘alaih]

Imam Muslim telah meriwayatkan sendirian dari hadits Umar bin Khathab .

Dan rukun ihsan ialah :

أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya dan jika kamu tidak melihat-Nya , maka sesungguhnya Dia Maha Melihatmu”. [HR. Muslim]

Telah berlaku takhrij hadits tersebut pada bagian sebelumnya.

6⃣ Tahap Keenam : 
Ajarilah anak tentang tata cara berwudhu’.

Bersambung…إن شاء الله


Sumber :
Kitab Nashihatiy Lin-Nisaa’ karya Ummu ‘Abdillah Al-Wadi’iyyah  حفظها الله

http://tamananakshalih.blogspot.com/


Category: 1. Tarbiyatul Aulad (Pendidikan Anak)

PENDIDIKAN ANAK 1

Mendidik anak itu suatu hal yang sulit. Maka para pendidik sangat membutuhkan kesabaran dan siasat (kecerdikan). Diantaranya, sebagian anak ada yang butuh perlakuan lembut, ramah dan tidak suka dibentak-bentak dan jika diperlakukan dengan kebalikannya dari hal itu, maka ia pun akan lebih sulit.

 

Sementara sebagian anak yang lainnya mungkin perlu untuk diperlakukan keras dengan tetap pada batas kewajaran dan jika berlebihan, maka akan menjadikan si anak lebih sulit dan tidak patuh arahan kedua orang tuanya.

 

Kita memohon kepada Allah سبحانه وتعالى semoga mengkaruniakan kepada kita kebaikan pemeliharaan dan tanggung jawab yang besar, yang berada di pundak orang tua.

 

Allah سبحانه وتعالى berfirman :

 

{….  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَار}

التحريم : ٦

 

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” [AT-Tahrim : 6]

 

Di dalam Ash-Shahihain dari hadits Abdullah bin Umar رضي الله عنهما ia berkata : Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :

 

,,كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ فَالْأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوجِهَا وَهِيَ مَسْئُولَةٌ وَالْعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ أَلَا فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُول,,ٌ

 

“Kalian semua adalah pemimpin dan kalian semua akan dimintai pertanggungjawaban, seorang imam adalah pemimpin dan ia nanti akan dimintai pertanggungjawaban, seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya dan ia nanti akan dimintai pertanggungjawaban, seorang wanita adalah pemimpin di dalam rumah suaminya dan ia nanti akan dimintai pertanggungjawaban, seorang budak adalah pemimpin atas harta majikannya dan ia nanti akan dimintai pertanggungjawaban, ketahuilah kalian semua adalah pemimpin dan kalian semua akan dimintai pertanggungjawabannya”.

 

Di samping itu, haruslah kerjasama antar suami dan istri dalam mendidik anak. Jika salah satu meremehkan kewajiban ini, niscaya akan terjadi kekurangan pada sisi yang semestinya ia harus berperan, kecuali bila Allah menghendaki lain.

 

Kemudian dalam mendidik anak haruslah menyesuaikan dengan tingkatan (tahapan) dan pemahaman seorang anak, dan perhatikanlah (wahai saudariku) perkara itu.

 

Misalnya sebagai berikut :

 

1⃣ Tahap Pertama :

Membimbing anak mengucapkan lafazh Allah عزوجل sambil memberi isyarat dengan telunjuk  ke langit.

 

2⃣ Tahap Kedua :

Jika memberi sepotong roti atau yang lainnya, berikanlah dengan tangan kanan.

 

3⃣ Tahap Ketiga :

Jika makanan masih panas, janganlah engkau meniupnya supaya dingin, karena Nabi صلى الله عليه وسلم melarang bernafas dalam tempat makanan atau minuman.

 

Seandainya si anak melihat orang yang melakukan itu, niscaya dengan cepat ia akan menirunya. Demikian juga dalam perkara lainnya. Semua ini merupakan bukti kebenaran sabda Nabi صلى الله عليه وسلم :

 

,,  كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَ الفِطْرَةِ فأَبَوَاهُ يُهَوِّ دَانَهُ أَوْيُنَصِّرَانَهُ أَوْيُمَجِّسَانِهِ,,

 

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanya yang akan menjadikannya Yahudi, Nashrani dan Majusi”.

 

Dalam Ash-Shahih Muslim dari hadits ‘Iyadh bin Himar رضي الله عنه, ia berkata “Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda : Allah سبحانه وتعالى berfirman :

 

,, إِنِّي خهَلَقْتُ عِبَادِيْ حُنَفَاءَفَاجْتَا لَتَهُمْ الشَّيْطَانُ ,,

 

“Sesungguhnya aku menciptakan hamba-hambaku dalam keadaan lurus (bertauhid), kemudian para syaithan mengelilingi mereka”.

 

 

Bersambung…إن شاء الله

 

 

Sumber :

Kitab Nashihatiy Lin-Nisaa’ karya Ummu ‘Abdillah Al-Wadi’iyyah  حفظها الله

 

 

http://tamananakshalih.blogspot.com/


Category: 1. Tarbiyatul Aulad (Pendidikan Anak)

NASEHAT INDAH SEORANG ULAMA DIDALAM MENDIDIK ANAK DIMASA GLOBALISASI

Category: 1. Tarbiyatul Aulad (Pendidikan Anak)

SEBAB-SEBAB YANG BISA MENGOKOHKAN DIATAS AGAMA

SEBAB-SEBAB YANG BISA MENGOKOHKAN DIATAS AGAMA

oleh Asy-Syaikh Sholih Al Fauzan hafizhahullah

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

1. Mempelajari Ilmu yang bermanfaat

2. Mempelajari Aqidah

3. Mempelajari prinsip dasar Aqidah

4. Kemudian mempelajari hadits-hadits fitnah

5. Kemudian menjauhi fitnah-fitnah dan ahlul fitan (pelaku fitnah; orang yang terfitnah) dan men-tahdzirnya dari orang-orang yang mendukung fitnah dan mengajak kepada fitnah.

6. Kemudian berdoa dan ini yang paling penting dan memperbanyak berdoa agar dikokohkan diatas agama.

7. Bermajelis kepada ahli ilmu dan bashirah (ulama)

8. Menjauhi wasilah (perantara) yang mengantarkan kepada fitnah dan menjauhinya dan jangan melihatnya karena hal tersebut akan berdampak buruk.

Maka jika seseorang mengamalkan perkara-perkara ini maka Allah Jalla wa ‘Ala akan menjaganya dari fitnah-fitnah karena dia telah menempuh sebab-sebabnya dan Taufiq (Hidayah) ditangan Allah subhana wa ta’ala.

Dikutip dari Fatawa Al Fauzan -hafizhahullah-
dari;
مجموعة فوائد الاعلام السبعة

Akhukum :
أبو بلال المكسري عفاالله عنه و عن والديه

———————————-

الأسباب التي تسبب الثبات على الدين:

1( تعلم العلم النافع).
2( تعلم العقيدة).
3(وأصول العقيدة).
4( ثم الاطلاع على أحاديث الفتن).
5(ثم الابتعاد عن الفتن وأهل الفتن والحذر من المروجين لها والدعاة إليها).
6(ثم الدعاء وهذا أهم شي ويكثر من الدعاء بالثبات).
7( يجالس أهل العلم، والبصيرة).
8(يبتعد عن وسائل الفتنه، يبتعد عنها ولا ينظر فيها، لأنها تجلب لهُ الشر).

فإذا عمل الإنسان بهذه الأمور، فإن الله جل وعلا  يعصمه من الفتن، لأنه (عمل الأسباب) و (التوفيق بيد لله سبحانه وتعالى).

اقتباسات من فتاوى الفوزان -حفظه الله-.

http://www.alfawzan.af.org.sa/node/15378

…………….
للإشتراك في مجموعة فوائد الاعلام  الإعلامية عبر الوآتساب
أرسل كلمة ( إشتراك ) إلى :-
أ - ….ابو عبدالله الحسيني…
00966501469639
مع تحيات : إدارة مجموعات  فوائد الاعلام السبعة……….. العلمية الإعلامية
http://goo.gl/K5mH9G

Sumber: http://salafymakassar.net/?p=681


Category: 5. Pengetahuan Agama, Uncategorized

Gizi untuk anak

بسم الله الرحمن الرحيم

Gizi Untuk Anak

✒ Kori Titi Angesti, S.Gz
Tri Astuti Septiani, S.Gz

———————

Bekalilah otak Anak dengan Gizi Terbaik

Setelah pembahasan mengenai bekal otak anak sampai usia 6 bulan maka sekarang dilanjutkan dengan makanan untuk tumbuh kembang otak usia bayi 6 - 12 bulan.

Kebutuhan gizi bayi usia 6- 12 bulan

Jika pada usia 0-6 bulan semua kebutuhan zat gizi bayi diperoleh melalui ASI, maka sejak usia bayi memasuki 6 bulan, ketika sistem pencernaannya mulai berkembang, ia mulai membutuhkan asupan makanan lain atau makanan pendamping ASI. Perlu diketahui bahwa pemberian MPASI yang tidak sesuai dengan tahap perkembangan sistem pencernaan si kecil dapat berdampak buruk bagi tumbuh kembang bayi. Mengenalkan makanan padat kepada bayi biasanya tidak mudah karena bayi baru belajar menelan. Sehingga pada awalnya bayi hanya menelan makanannya sedikit.
Pada saat mengenalkan makanan padat, sebaiknya hindari memberikan berbagai jenis makanan yang dcampur jadi satu. Sebab indera pengecap rasa bayi sedang mengalami puncak perkembangan. Otak bayi akan merekam berbagai rasa dari berbagai jenis makanan. Jika bayi diberi berbagai jenis makanan yang dicampur jadi satu, maka memori rasa tersebut tidak terlatih. Berikan makanan tambahan sebelum diberi ASI. Sebab bila tidak, maka nafsu makan bayi akan terganggu.
Berikan mpasi yang :
mengandung cukup kalori
mengandung beranekan jenis zat gizi
terjaga kebersihannya
bertekstur lembut agar mudah dicerna
tidak sulit didapat
mudah dipersiapkan.

1 Usia 6-9 bulan
Jenis-jenis makanan yang tepat untuk usia ini, antara lain :
karbohidrat, seperti beras, beras merah, kentang.
(Sebaiknya tidak memberikan ubi jalar karena proses penguraian ubi jalar di saluran pencernaan akan menghasilkan gas)
Protein, seperti daging, ikan , telur, tahu, tempe, atau kacang. Daging, ikan, atau ayam diberikan dalam bentuk cincang atau giling. Telur boleh diberikan ketika usia 8 bulan. Berikan kuningnya saja. Setelah usia 1 tahun baru berikan dengan putihnya. Perhatikan ada tidaknya reaksi alergi. Hindari pemberian telur mentah atau setengah matang karena mengandung antitripsin yang sulit dicerna usus.
Lemak, seperti minyak sayur, santan, margarin, atau mentega.
Vitamin dan mineral, seperti sayuran dan buah. Sayuran antara lain brokoli, labu kuning, buncis,jagung manis, jamur merang, kacang polong dan wortel. Buah seperti pisang, pepaya, jeruk, alpukat, melon, pir dan apel.

2 usia 9-12 bulan
Jenis makanannya antara lain :
karbohidrat, seperti bubur, nasi tim, kentang, biskuit crackers, aneka jenis roti gandum, olahan mi, dan makaroni atau pasta
Protein, seperti daging sapi tanpa lemak, daging ayam, ikan, telur, tahu, tempe , atau kacang2an yang berupa pure dalam tekstur yang lebih kasar
Vitamin dan mineral, seperti brokoli, wortel, buncis, kembang kol,mentimun, apel, tomat, melon, atau semangka, dengan rasa yang asli. Ini akan memperkaya indera perasa yang sedang dikembangkan si kecil.

Adapun tahapan pemberian makanan pad bayi, antara lain:
kenalkan secara bertahap & dalam porsi kecil
Suhu makanan tidak terlalu panas atau dingin
Mulai dengan memberikan satu jenis bahan makanan, selama paling tidak 4 hari, agar bayi benar2 dapat mengenal jenis makanan barunya serta dapat terlihat jika ia mengalami alergi. Jika bayi mengalami efek samping berupa sembelit atau diare, segera ganti jenis makanan.
Awali dengan jenis makanan yang betuknya halus dalam jumlah sedikit
Bila tahap perkenalan berjalan lancar, selanjutnya berikan makanan mulai dari encer lalu dikentalkan
Bila tahap tersebut juga berhasil dilalui, artinya ia boleh diberi makanan yang lebih padat. Misalnya nasi tim saring agar terlatih mengunyah dan menelan.
Perlu diketahui
Hindari penggunaan bumbu, termasuk garam, merica, dan bumbu penyedap lainnya dalam mpasi
Setelah usia 12 bulan, umumnya bayi sudah bisa mengkonsumsi makanan yang sama seperti anggota keluarga lainnya, dengan potongan dan penambahan bumbu yang disesuaikan.

Gizi untuk otak anak

Sama seperti bagian tubuh lainnya, kondisi otak juga butuh dijaga & diberi asupan yang bergizi agar dapat berkembang maksimal. Mengkonsumsi makanan yang bergizi tak hanya membuat kondisi jantung, paru2, dan pencernaan menjadi sehat, namun juga mempengaruhi efisiensi dari proses kimia otak, meningkatkan daya ingat, konsentrasi, dan energi mental. Jenis-jenis makanan yang dibutuhkan agar tumbuh kembang otak anak maksimal yaitu :

Ikan & kerang2an
Adapun kandungan dari ikan & kerang2an, antara lain :

Asam lemak omega 3  Ini penting untuk perkembangan saraf, mata  dan fungsi otak.Juga dapat meningkatkan mood serta mengurangi depresi pada anak.
Kholin
MerupKan mineral yang diperlukan u/ memproduksi asetilkolin-zat kimia otak- yang berfungsi untuk meningkatkan kemampuan
kemampuan belajar.
Seng
sebagai mineral otak yang paling penting untuk memori dan konsentrasi.

Gandum & Sereal
Gandum merupakan salah satu sumber karbohidrat kompleks yang bisa menyediakan energi secara terus menerus. Karbohidrat kompleks membantu meningkatkan serotonin, yakni senyawa kimia penenang otak dan peningkat mood. Karenanya, makanan seperti gandum utuh, pasta, beras merah, atau mi bisa membantu anak2 untuk tenang. Gandum juga sumber vitamin dan mineral penting untuk otak seperti vitamin B, seng, magnesium, asam folat, zat besi, selenium, dan vitamin E.

Buah & Sayur
Buah dan sayur menyediakan nutrisi untuk otak terutama antioksidan dan phytochemicals. Buah adalah sumber vitamin C, boron, selenium, dan karotenoid. Sayuran merupakan sumber zat besi, vitamin C, kalsium, selenium, vitamin B, magnesium, seng , dan boron. Boron bertanggung jawab untuk memproduksi gelombang otak positif, meningkatkan kewaspadaan, dan meningkatkan daya ingat dan konsentrasi. Vitamin C membantu penyerapan zat besi, yang dapat meningkatkan IQ dan memberi energi pada pikiran.

Susu & produknya
Susu, keju, mentega, yogurt merupakan sumber protein yang mengandung beberapa asam amino. Namun, karena mentega dan keju mengandung lemak jenuh, maka makanan ini dimakan dalam jumlah sedang, sebab dalam jangka panjang dapat menyumbat pembuluh arteri ke otak. Produk susu merupakan sumber kalsium, vitamin A, dan  vitamin B. Asam amino tirosin yang terkandung di dalam susu berfungsi untuk meningkatkan kewaspadaan mental dan motivasi. Gula alami yang terkandung dalam susu (laktosa) dapat membantu mengubah triptopan dalam ptotein menjadi serotonin. Zat inilah yang membantu anak untuk lebih rileks, terutama saat tidur.

Kacang-kacangan & biji-bijian

Segenggam penuh kacang-kacangan dan biji bijian dapat meningkatkan kebutuhan vitamin B, zat besi, magnesium, kalsium, vitamin E, selenium, potasium, seng, dan asam lemak omega 6. Semua zat gizi ini dibutuhkan otak untuk menjalankan fungsi dan memproduksi energi. Sebaliknya, anak-anak yang kekurangan vitamin B cepat merasa lelah dan lesu, dan memiliki masalah konsentrasi.

Telur
Telur merupakan sumber lesitin, vitamin B, zat besi, seng yang dibutuhkan otak. Telur merupakan protein lengkap dan menyediakan semua asam amino penting yang dibutuhkan untuk membangun penghantar di dalam otak dan penyampai pesan otak. Telur juga kaya akan triptopan yang diperlukan untuk membuat zat kimia serotonin, yang menenangkan  pikiran dan perilaku.

Daging & unggas
Daging merah adalah sumber yang baik untuk zat besi. Mengkonsumsi makanan sumber zat besi baik untuk menaikkan mood, mengurangi amarah, dan meningkatkan IQ. Unggas adalah sumber protein rendah lemak (selama kulitnya dibuang) dan juga merupakan sumber asam amino triptopan yang baik, yang penting untuk serotonin. Mengkonsumsi daging atau unggas bersamaan dengan karbohidrat dapat mendorong pembentukan triptopan di dalam otak.

Air
Seorang anak yang tidak minum cukup air dapat mengalami sakit kepala, lesu, konsentrasi buruk, dan konstipasi. Dehidrasi juga berdampak pada kemampuan tubuh untuk memindahkan zat gizi penting ke seluruh tubuh dan otak. Kekurangan 2% dari cairan tubuh dapat menyebabkan penurunan sebesar 20 % performa fisik dan mental.

و الله أعلم بالصواب

Tim Gizi Grup BIKUM

Category: 7. Kesehatan Anak

AISYAH BINTU ABU BAKR: BELAHAN JIWA RASULULLAH

Mengenal Ummul Mukminin

AISYAH BINTU ABU BAKR: BELAHAN JIWA RASULULLAH
Oleh: Al Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran

Dialah ‘Aisyah bintu Abi Bakr ‘Abdillah bin Abi Quhafah ‘Utsman bin ‘Amir bin ‘Amr bin Ka’b bin Sa’d bin Taim bin Murrah bin Ka’b bin Lu’ay al-Qurasyiyyah at-Taimiyyah al-Makkiyyah Radhiyallahu ‘Anha.

Dia seorang wanita yang cantik dan berkulit putih sehingga mendapat sebutan al-Humaira’. Ibunya bernama Ummu Ruman bintu ‘Amir bin ‘Uwaimir bin ‘Abdi Syams bin ‘Attab bin Udzainah al-Kinaniyyah. Dia lahir ketika cahaya Islam telah memancar, sekitar delapan tahun sebelum hijrah. Dihabiskan masa kanak-kanaknya dalam asuhan sang ayah, kekasih Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam, seorang sahabat yang mulia, Abu Bakr ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘Anhu.

Belum tuntas masa kanak-kanaknya ketika datang pinangan Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam. Usianya baru menginjak enam tahun saat Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam melaksanakan akad pernikahan dengannya. Wanita mulia yang diperlihatkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala kepada Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam dalam wahyu berupa mimpi untuk memberitakan bahwa dia kelak akan menjadi istri beliau.

Dilaluinya hari-hari setelah itu di tengah keluarganya hingga tiba saatnya Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam menjemputnya –tiga tahun kemudian, seusai beliau kembali dari pertempuran Badr – untuk memasuki rumah tangga yang dipenuhi cahaya nubuwwah di Madinah. Tidak satu pun di antara istri-istri beliau yang dinikahi dalam keadaan masih gadis kecuali ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha.

Seorang wanita yang mulia, sabar bersama Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam di tengah kefakiran dan rasa lapar, hingga terkadang hari-hari yang panjang berlalu tanpa nyala api untuk memasak makanan apa pun. Yang ada hanyalah kurma dan air.

Seorang istri yang menyenangkan suaminya yang mulia, menggiring kegembiraan ke dalam hatinya, menghilangkan segala kepayahan dalam menjalani kehidupan dakwah untuk menyeru manusia kepada Allah.

Allah Subhanallahu Wata’ala memberikan banyak keutamaan baginya, di antaranya dengan meraih kecintaan Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam. Kecintaan yang tak tersamarkan, tatkala Rasulullah Sholallahu ‘Aliaihi Wasallam menyatakan hal itu dari lisannya yang mulia, hingga para sahabat pun berusaha mendapatkan ridha Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam dalam hal ini. Siapa pun yang ingin memberikan hadiah kepada beliau biasa menangguhkannya hingga tiba saatnya Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam berada di tempat ‘Aisyah.

Di sisi lain, ada istri-istri Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam, wanita-wanita mulia yang tak lepas dari tabiat mereka sebagai wanita. Tak urung kecemburuan pun merebak di kalangan mereka sehingga mereka mengutus Ummu Salamah untuk menyampaikan kepada Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam agar mengatakan kepada manusia, siapa pun yang ingin memberikan hadiah, hendaknya memberikannya di mana pun beliau berada saat itu.

Ummu Salamah Radhiyallahu ‘Anha pun mengungkapkan hal itu saat beliau berada di sisinya, namun beliau tidak menjawab sepatah kata pun. Diulanginya permintaan itu setiap kali Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam datang kepadanya, dan beliau pun tetap tidak memberikan jawaban.
Pada kali yang ketiga Ummu Salamah Radhiyallahu ‘Anha mengatakannya, beliau menjawab, “Janganlah engkau menggangguku dalam permasalahan ‘Aisyah, karena sesungguhnya Allah tidak pernah menurunkan wahyu dalam keadaan diriku di dalam selimut salah seorang pun dari kalian kecuali ‘Aisyah.”

Kemuliaan demi kemuliaan diraihnya dari sisi Allah Subhanallahu Wata’ala. Dari banyak peristiwa yang dialaminya, Allah Subhanallahu Wata’ala menurunkan ayat-ayat-Nya.

Suatu ketika, ‘Aisyah turut dalam perjalanan Rasulullah Subhanallahu Wata’ala. Rombongan itu pun singgah di suatu tempat. Tiba-tiba ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha merasa kalungnya hilang, sementara kalung itu dipinjamnya dari Asma’, kakaknya.

Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam pun memerintahkan para sahabat yang turut dalam rombongan itu untuk mencarinya. Terus berlangsung pencarian itu hingga masuk waktu shalat. Akan tetapi ternyata tak ada air di tempat itu sehingga para sahabat pun shalat tanpa wudhu’. Tatkala bertemu dengan Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam, mereka mengeluhkan hal ini kepada beliau. Saat itulah Allah Subhanallahu Wata’ala menurunkan ayat-Nya tentang tayammum.

Melihat kejadian ini, Usaid bin Hudhair Radhiyallhu Anhu mengatakan kepada ‘Aisyah, “Semoga Allah memberikan balasan kepadamu berupa kebaikan. Demi Allah, tidak pernah sama sekali terjadi sesuatu padamu kecuali Allah jadikan jalan keluar bagimu dari permasalahan itu, dan Allah jadikan barakah di dalamnya bagi seluruh kaum muslimin.”

Satu peristiwa penting tercatat dalam kehidupan ‘Aisyah. Allah Subhanallahu Wata’ala menyatakan kesucian dirinya. Berawal dari kepulangan Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam dari pertempuran Bani Musthaliq yang ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha turut dalam rombongan itu. Di tengah perjalanan, ketika rombongan tengah beristirahat, ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha pergi untuk menunaikan hajatnya. Namun ia kehilangan kalungnya sehingga kembali lagi untuk mencarinya. Berangkatlah rombongan dan ‘Aisyah tertinggal tanpa disadari oleh seorang pun. ‘Aisyah menunggu di tempatnya semula dengan harapan rombongan itu kembali hingga ia tertidur.

Saat itu muncullah Shafwan ibnul Mu’atthal Radhiyallahu ‘Anhu yang tertinggal dari rombongan Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam. Melihat ‘Aisyah, dia pun beristirja’ (Mengucapkan Innalillahi Wa inna ilaihi Rajiun -red) dan ‘Aisyah terbangun mendengar ucapannya. Tanpa mengatakan sesuatu pun dia persilakan ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha untuk naik kendaraannya dan dituntunnya hingga bertemu dengan rombongan.

Kaum munafikin yang ditokohi oleh ‘Abdullah bin Ubay bin Salul menghembuskan berita bohong tentang ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha. Berita itu terus beredar dan mengguncangkan kaum muslimin, termasuk Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam, sedang ‘Aisyah sendiri tidak mendengarnya karena dia langsung jatuh sakit selama sebulan setelah kepulangan itu. Hanya saja ia merasa heran karena tidak menemukan sentuhan kelembutan Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam selama sakitnya sebagaimana biasa bila dia sakit.

Akhirnya berita bohong itu pun sampai kepada ‘Aisyah melalui Ummu Misthah Radhiyallahu ‘anha. ‘Aisyah pun menangis sejadi-jadinya dan meminta izin kepada Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam untuk tinggal sementara waktu dengan orang tuanya. Beliau pun mengizinkan.

Sementara itu, wahyu yang memutuskan perkara ini belum juga turun sehingga Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam meminta pendapat ‘Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid Radhiyallahu ‘Anhuma dalam urusan ini. Beliau pun menemui ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, mengharap kejelasan dari peristiwa ini.

Di puncak kegalauan itu, dari atas langit Allah menurunkan ayat-ayatnya yang membebaskan ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha dari segala tuduhan yang disebarkan oleh orang-orang munafik. ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, wanita mulia yang mendapatkan pembebasan Allah Subhanallahu Wata’ala dari atas langit.

Dia melukiskan keadaannya pada waktu itu, “Demi Allah, saat itu aku tahu bahwa diriku terbebas dari segala tuduhan itu dan Allah akan membebaskan aku darinya. Namun, demi Allah, aku tidak pernah menyangka Allah akan menurunkan wahyu yang dibaca dalam permasalahanku, dan aku merasa terlalu rendah untuk dibicarakan Allah di dalam ayat yang dibaca. Aku hanya berharap, Rasulullah akan melihat mimpi yang dengannya Allah membebaskan diriku dari tuduhan itu.”

Ayat-ayat itu terus terbaca oleh seluruh kaum muslimin hingga hari kiamat di dalam Surat an-Nuur ayat 11 beserta sembilan ayat berikutnya.

Wanita mulia ini menjalani hari-harinya bersama Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam hingga tiba saatnya beliau kembali ke hadapan Allah Subhanallahu Wata’ala. Delapan belas tahun usianya, saat Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam wafat di atas pangkuannya setelah hari-hari terakhir selama sakit beliau memilih untuk dirawat di tempatnya. Beliau pun dikuburkan di kamar ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha.

Sepeninggal beliau, ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha menyebarkan ilmu yang dia dapatkan dalam rumah tangga nubuwah. Riwayatnya banyak diambil oleh para sahabat yang lain dan tercatat dalam kitab-kitab. Dia menjadi seorang pengajar bagi seluruh kaum muslimin.

Keutamaan dari sisi Allah banyak dimilikinya, hingga Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam menyatakan,
“Keutamaan ‘Aisyah atas seluruh wanita bagaikan keutamaan tsarid2 atas seluruh makanan”
Bahkan Jibril menyampaikan salam padanya melalui Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam.

Tiba waktunya ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha kembali kepada Rabb-Nya.

Wanita mulia ini wafat pada tahun 57 Hijriah dan dikuburkan di pekuburan Baqi’. Ilmunya, kisah hidupnya, keharumannya namanya tak pernah sirna dari goresan tinta para penuntut ilmu. Semoga Allah meridhainya.

Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

Sumber bacaan:

1. Fathul Bari Syarh Shahih al-Bukhari Al-Hafidz Ibnu Hajar al-’Asqalani

2. Syarh Shahih Muslim Al-Imam an-Nawawi

3. Al-Ishabah fi Tamyiz ash-Shahabah Al-Imam Ibnu Hajar al-’Asqalani

4. Siyar A’lamin Nubala’ Al-Imam adz-Dzahabi

5. Shahih as-Sirah an-Nabawiyah asy-Syaikh Ibrahim al-’Aly

sumber:  asysyariah.com
via https://catatanmms.wordpress.com/2011/09/26/aisyah-bintu-abu-bakr-belahan-jiwa-rasulullah/

❀Syarhus Sunnah lin Nisaa`
❀شرح السنة للنساء

✿●●✿✿✿✿●●✿

Category: 5. Pengetahuan Agama, Uncategorized

YANG KUINGINKAN HANYA JILBAB YANG SYAR’I

YANG KUINGINKAN HANYA JILBAB YANG SYAR’I

(penulis: Al Ustadz Abdullah al-Jakarty)

Ketika iman sudah tertancap di hati seseorang, ketika datang perintah Allah dan Rasul-Nya, dia akan berkata, “Kami mendengar dan taat.” Sikap seperti inilah yang harus dikedepankan oleh setiap muslim terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang orang-orang beriman,

وَقَالُواْ سَمِعۡنَا وَأَطَعۡنَاۖ

“… dan mereka mengatakan, ‘Kami mendengar dan taat’.”
(al-Baqarah: 285)

Dalam ayat lain Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٖ وَلَا مُؤۡمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمۡرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلۡخِيَرَةُ مِنۡ أَمۡرِهِمۡۗ وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلٗا مُّبِينٗا ٣٦

“Tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata.”
(al-Ahzab: 36)

Di antara kewajiban yang diperintahkan oleh Allah kepada setiap muslimah adalah memakai jilbab syar’i yang menutupi seluruh tubuh mereka. Perintah ini ditegakkan untuk kemaslahatan (kebaikan) mereka di dunia dan di akhirat.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَقُل لِّلۡمُؤۡمِنَٰتِ يَغۡضُضۡنَ مِنۡ أَبۡصَٰرِهِنَّ وَيَحۡفَظۡنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنۡهَاۖ وَلۡيَضۡرِبۡنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّۖ

“Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangan dan kemaluan mereka, janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka, kecuali yang (biasa) tampak, dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada mereka….”
(an-Nur: 31)

Dalam ayat yang lain Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ قُل لِّأَزۡوَٰجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ يُدۡنِينَ عَلَيۡهِنَّ مِن جَلَٰبِيبِهِنَّۚ

“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka.”

(al-Ahzab: 59)

Disebutkan dalam sebuah hadits, ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam memerintah para wanita untuk pergi ke tempat dilaksanakannya shalat id, seorang shahabiyah yang bernama Ummu ‘Athiyyah berkata, “Wahai Rasulullah, di antara kami ada yang tidak memiliki jilbab.” Beliau menjawab,

لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا

“Hendaklah saudarinya memakaikan (meminjamkan) jilbab kepadanya.”
(HR. Muslim no. 2093)

Dalam hadits yang lain, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan,

كُنَّ نِسَاءُ الْمُؤْمِنَاتِ يَشْهَدْنَ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلاَةَ الْفَجْرِ مُتَلَفِّعَاتٍ بِمُرُوطِهِنَّ، ثُمَّ يَنْقَلِبْنَ إِلَى بُيُوتِهِنَّ حِينَ يَقْضِينَ الصَّلاَةَ لاَ يَعْرِفُهُنَّ أَحَدٌ مِنَ الْغَلَسِ

“Dahulu para wanita mukminah ikut shalat fajar (subuh) bersama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam dengan menutupi tubuh mereka dengan kain. Selesai shalat, mereka kembali ke rumah mereka dan tidak ada seorang pun yang mengenali mereka karena suasana masih gelap.”
(HR. al-Bukhari no. 578 dan Muslim no. 1491)

Wahai muslimah, tentu setiap muslim ingin menjalankan perintah Allah sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Allah, sehingga amalannya terhitung sebagai amalan saleh yang kelak menjadi pemberat timbangan amalan kebaikannya. Hijab atau jilbab mempunyai ketentuan-ketentuan atau syarat-syarat yang harus dipenuhi agar sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya.

Berikut syarat-syarat hijab dan jilbab yang syar’i.

1. Hijab harus menutupi seluruh tubuh.

Hal ini berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala ,

َ يُدۡنِينَ عَلَيۡهِنَّ مِن جَلَٰبِيبِهِنَّۚ

“Hendaklah mereka mengulurkan jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka.”
(al-Ahzab: 59)

Yang dimaksud jilbab ialah kain yang lebar atau lapang yang dapat menutupi seluruh tubuh.

2. Hijab harus tebal, tidak tipis, dan tidak transparan.

Dengan hijab yang seperti inilah upaya menutupi aurat tercapai. ⛔Sebaliknya, jika yang digunakan adalah pakaian yang tipis dan transparan, tidak tercapai tujuan menutup aurat yang diperintahkan oleh agama.


3. Hijab yang dipakai bukan sebagai perhiasan sehingga menarik orang untuk melihatnya.

Hijab tersebut tidak diberi hiasan, aksesoris, dan yang semisalnya, agar tidak membuat orang lain, terutama laki-laki, tertarik untuk melihatnya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنۡهَاۖ

“Janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka, kecuali yang (biasa) tampak darinya.”
(an-Nur: 31)

Ayat ini umum, mencakup pula pakaian luar yang penuh perhiasan sehingga membuat pandangan orang lain tertuju padanya. Silakan lihat Jilbab al-Mar’ah al-Muslimah karya asy-Syaikh al-Albani.


4. Hijab harus lebar, tidak sempit/ketat, sehingga tidak memperlihatkan lekukan tubuh.

Terdapat ancaman keras bagi wanita yang memakai pakaian tetapi memperlihatkan tubuh mereka, atau memakai pakaian ketat sehingga membentuk lekukan tubuhnya.
Mereka itu berpakaian, tetapi pada hakikatnya telanjang.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا: قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ؛ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ، رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا، وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Ada dua golongan penduduk neraka yang belum aku lihat. Pertama, sebuah kaum yang memegang cambuk seperti ekor sapi, yang mereka gunakan untuk mencambuk manusia. Kedua, para wanita yang berpakaian tetapi telanjang. Mereka berjalan berlenggak-lenggok (berjalan dengan menimbulkan fitnah). Kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak dapat mencium bau harum surga, padahal baunya tercium dari jarak sekian dan sekian.”
(HR. Muslim no. 5704)

5. Tidak memakai wewangian

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا مِنْ رِيحِهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ

“Wanita mana saja yang memakai wewanginan lalu berjalan melewati sebuah kaum supaya mereka mencium bau wanginya, maka dia adalah pezina.”
(HR. Abu Dawud no. 4175, an-Nasa’i no. 5126, dan at-Tirmidzi no. 2786. Al-Imam at-Tirmidzi berkata, “Hadits hasan shahih.” Hadits ini dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani.)


6. Tidak menyerupai pakaian wanita kafir.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barang siapa menyerupai suatu kaum, dia seperti mereka.”
(HR. Abu Dawud no. 4033 dan Ahmad, dinyatakan shahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 2831)


7. Tidak menyerupai pakaian laki-laki.

Syariat melarang wanita memakai pakaian yang menyerupai pakaian lelaki.

Hal ini dijelaskan dalam banyak dalil, di antaranya sebuah hadits dari Ibnu ‘Abbas,

لَعَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُخَنَّثِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالْمُتَرَجِّلاَتِ مِنَ النِّسَاءِ

“Nabi melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki.”
(HR. al-Bukhari no. 5886)

Begitu juga hadits dari Abu Hurairah,

لَعَنَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّجُلَ يَلْبَسُ لِبْسَةَ الْمَرْأَةِ وَالْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لِبْسَةَ الرَّجُلِ

“Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam melaknat laki-laki yang mengenakan pakaian perempuan dan perempuan yang mengenakan pakaian laki-laki.”
(HR. Abu Dawud no. 4100, dinyatakan shahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 5095)

Asy-Syaikh al-‘Allamah Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata,
“Wanita tidak boleh memakai pakaian yang tasyabbuh (menyerupai) dengan pakaian laki-laki atau dengan pakaian wanita-wanita kafir. Dia juga tidak diperbolehkan memakai pakaian ketat yang menampakkan lekuk tubuh dan menimbulkan fitnah. Pantalon mengandung semua larangan di atas sehingga tidak diperbolehkan memakainya.”
(al-Muntaqa 3/457)

8. Bukan pakaian syuhrah (pakaian untuk mencari ketenaran).

Pakaian syuhrah adalah semua pakaian yang dipakai untuk meraih kemasyhuran (ketenaran) di tengah-tengah manusia, baik berupa pakaian mewah (mahal) yang dikenakan untuk membanggakan dunia dan perhiasannya, maupun pakaian jelek yang dikenakan untuk menampakkan kezuhudan dan karena riya’. Silakan lihat Jilbab al-Mar’ah al-Muslimah karya asy-Syaikh alAlbani.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam melarang pakaian syuhrah. Beliau bersabda,

مَنْ لَبِسَ ثَوْبَ شُهْرَةٍ فِي الدُّنْيَا، أَلْبَسَهُ اللهُ ثَوْبَ مَذَلَّةٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، ثُمَّ أَلْهَبَ فِيهِ نَارًا

“Barang siapa mengenakan pakaian (untuk mencari) kemasyhuran (ketenaran) di dunia, Allah akan mengenakan untuknya pakaian kehinaan pada hari kiamat, kemudian Dia kobarkan api di dalamnya.”
(HR. Ibnu Majah no. 3607 dan Abu Dawud no. 4031, dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 6526)

Itulah beberapa ketentuan atau syarat hijab dan jilbab syar’i.

Jilbab bukan sekadar kain yang dipakai sesuai dengan keinginan. Jilbab dipakai bukan agar pemakainya tetap terlihat gaul, modis, dan cantik di hadapan semua orang, terutama laki-laki. Jadi, apa yang dipilih oleh sebagian muslimah yang memakai jilbab masih jauh dari ketentuan jilbab yang syar’i.

Kalau begitu, katakanlah,
“Yang kuinginkan hanya jibab yang sesuai dengan syariat.”

Wallahu a’lam bish shawab.

Alhamdulillaah diambil dari http://qonitah.com/yang-kuinginkan-hanya-jilbab-yang-syari/

❀Syarhus Sunnah lin Nisaa`
❀شرح السنة للنساء


Category: 2. Wanita Sholihah (Ibu & Istri)

Menjaga Diri dari Kekikiran Jiwa

Menjaga Diri dari Kekikiran Jiwa

قال الله تعالي:

{ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ }

قال الشيخ عبد الرحمن بن ناصر السعدي رحمه الله تعالي:

ووقاية شح النفس، يشمل وقايتها الشح، في جميع ما أمر به،

فإنه إذا وقي العبد شح نفسه، سمحت نفسه بأوامر الله ورسوله، ففعلها طائعا منقادا، منشرحا بها صدره، وسمحت نفسه بترك ما نهى الله عنه، وإن كان محبوبا للنفس، تدعو إليه، وتطلع إليه، وسمحت نفسه ببذل الأموال في سبيل الله وابتغاء مرضاته، وبذلك يحصل الفلاح والفوز،

بخلاف من لم يوق شح نفسه، بل ابتلي بالشح بالخير، الذي هو أصل الشر ومادته،

Allah ta’ala berfirman:

{ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ }

“Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
[Al-Hasyr: 9]

Asy-Syaikh As-Sa’di rahimahullahu ta’ala berkata:

“Dipelihara dari kekikiran jiwa mencakup dijaganya jiwa itu dari kekikiran pada seluruh yang diperintahkan.

Seorang hamba manakala dijaga dari kekikiran jiwanya, maka dirinya akan bermurah hati untuk melaksanakan perintah-perintah Allah ta’ala dan Rasul-Nya.

Ia akan melakukannya dengan sepenuh ketaatan dan ketundukan serta dalam keadaan berlapang dada.

Jiwanya juga akan mudah meninggalkan larangan Allah ta’ala meskipun jiwanya menyukainya dan mengajak serta menoleh kepadanya.

Orang yang jiwanya dijaga dari kekikiran akan mudah mencurahkan harta di jalan Allah ta’ala dan untuk mencari ridha-Nya. Dengan demikian, ia akan mendapat keberuntungan.

Berbeda dengan orang yang tidak dijaga dirinya dari kebakhilan, bahkan diuji dengan kebakhilan terhadap kebaikan, yang merupakan pokok dari kejelekan.”

Taisirul Karimirrahman, hlm. 851 cet. Ar-Risalah

WhatsApp Al-Ukhuwwah


Category: 3. Untaian Nasihat