Dicari agen di seluruh Indonesia - For Fast Response : 0878 3039 6201 atau 0896 2010 1991 - Siap menerima order anda in syaaAllah

BATASAN MEMUKUL ANAK

Fatwa Asy-Syaikh ‘Ubaid bin ‘Abdillah al-Jabiry حفظه اللّه

 

PERTANYAAN:

Semoga Allah memberi kebaikan kepada Anda, pertanyaan ke-21 ini dari negeri Aljazair, ia bertanya tentang dhobith/ batasan dalam memukul anak?

 

JAWABAN:

Pertama, saya tidak mengetahui tentang dhobit kecuali ada dalil syar’i tentangnya. Namun sepatutnya atas seorang ayah dan wali anak untuk menjadi seorang yang penyayang, lembut, dan pengasih.

Dan dianjurkan untuk tidak dipukul kecuali yang sudah mumayyiz. Yaitu yang telah mencapai usia tujuh tahun. Dan apabila butuh untuk menghukum yang di bawah usia tersebut maka dengan cara mengancam atau pukulan ringan yang tidak membekas bagi anak kecil itu dan tidak menimbulkan sentimen negatif darinya.

Berbeda dengan yang sudah mumayyiz. Mumayyiz mengetahui dan memahami ini salah dan ini benar. Dan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Perintahkan anak-anak kalian untuk melaksanakan shalat ketika berusia tujuh tahun. Dan pukullah mereka (ketika tidak mau melaksanakannya) di saat berumur sepuluh tahun.” INI KAIDAHNYA.

Dan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha dahulu -sebagaimana diriwayatkan Al-Bukhoriy dalam kitab Adabul Mufrod- beliau berkata:

“Sungguh aku memukul anak yatim (yang tidak mau shalat) sampai ia terbentang.”

Yaitu : sampai telentang. Namun bukan maknanya ini adalah pukulan yang keras yang membuat jasad berdarah atau terluka. Tidak lain itu hanyalah pukulan yang membuat ia mencicip rasa sakit dan menjadikan ia merasakan kesalahannya.

Dengan ini kamu wahai penanya –dan yang selainmu dari muslim dan muslimah– hendaknya memahami bahwa tidak halal bagi wali anak yatim –baik dia orangtua laki-laki atau perempuan atau selain keduanya– untuk dikeraskan pukulan atasnya sebagaimana singa mencabik mangsanya.

Sebagian orang kadang mengambil tongkat yang besar lalu memukul anak dari kepala sampai kedua kakinya, dengan pukulan yang keras. Atau ia membantingnya ke tanah dan menginjaknya. Atau ia (wali) meletakkan kaki di kepalanya (anak) dan memukulinya.

Ini keliru. Hal ini tidak boleh. Dan ini adalah haram. Seperti ini jauh dari sikap lemah-lembut.

Tidaklah berbuat seperti ini kecuali seorang yang telah Allah cabut sifat lemah-lembut, mengasihi, menyayangi, dan belas-kasih darinya. Ya (demikian).

 

Sumber: http://miraath.net/questions.php?cat=125&id=2651

 

Alih Bahasa: al-Ustadz Abu Yahya Abdulloh al-Maidaniy حفظه اللّه

Category: 1. Tarbiyatul Aulad (Pendidikan Anak)

PENDIDIKAN ANAK (3)

7⃣ Tahap Ketujuh :
Apabila ia makan dari sebuah bejana, maka katakan kepadanya bahwa hendaklah ia makan apa yang ada di dekatnya.

Di dalam Ash-Shahihain, dari hadits Umar bin Abi Salamah رضي الله عنه, ia berkata : “Aku pernah makan, sedangkan tanganku lari ke sana kemari di dalam shafhah (tempat makan), lalu Nabi صلى الله عليه وسلم pun berkata kepadaku :

يَا غُلاَمُ، سَمِّ اللهَ وَكُلْ بِيَمِيْنِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيْكَ

Wahai anak muda, bacalah basmalah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah apa yang ada di dekatmu”.

8⃣ Tahap Kedelapan :
Biasakanlah ia di dalam kebaikan. Ketika umurnya telah menginjak tujuh tahun, latihlah ia untuk melaksanakan shalat.

Telah berkata Abu Dawud رحمه الله (1/No. 495) :

حَدَّثَنَا مُؤَمَّلُ بْنُ هِشَامٍ، - يَعْنِي الْيَشْكُرِيَّ - حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ، عَنْ سَوَّارٍ أَبِي حَمْزَةَ، - قَالَ أَبُو دَاوُدَ وَهُوَ سَوَّارُ بْنُ دَاوُدَ أَبُو حَمْزَةَ الْمُزَنِيُّ الصَّيْرَفِيُّ - عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ “‏ مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

Muammal bin Hisyam (Al-Yasykuri) telah menceritakan kepada kami. Isma’il telah menceritakan kepada kami, dari Sawwa Abi Hamzah. Abu Dawud berkata : Ia adalah Sawwar bin Dawud Abu Hamzah Al-Muzani Ash-Shairafi. Dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata : Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda : “Perintahkan anak-anakmu untuk shalat ketika mereka berumur tujuh tahun dan pukullah mereka jika menolak ketika berumur sepuluh tahun dan pisahkan tempat tidur di antara mereka”.

Hadits ini sanadnya hasan.

Muammal bin Hisyam seorang terpercaya (tsiqah) sedang Isma’il ia adalah Ibu ‘Ulaiyah seorang yang terkenal dan Sawwar ia seorang yang jujur (shaduq), ia punya beberapa kekeliruan sebagaimana dalam At-Taqrib dan haditsnya bisa dijadikan hujjah selama tidak termasuk dari kesalahannya sedang perawi-perawi lainnya telah dikenal.

Hadits ini punya jalan lain dari hadits Sabrah dalam Sunan Abu Dawud No. 494.

9⃣ Tahap Kesembilan :
Memisahkan tempat tidur anak-anak jika telah berumur sepuluh tahun, sebagaimana hadits sebelumnya.

Bersambung…إن شاء الله

Sumber :
Kitab Nashihatiy Lin-Nisaa’ karya Ummu ‘Abdillah Al-Wadi’iyyah  حفظها الله


http://tamananakshalih.blogspot.com/

 


Category: 1. Tarbiyatul Aulad (Pendidikan Anak)

PENDIDIKAN ANAK (2)


4⃣ Tahap Keempat : 
Ketika anak telah berumur kurang lebih satu setengah tahun, bila ingin minum atau makan, bimbinglah untuk mengucapkan Bismillah dan setelah itu ia akan terbiasa dan dengan sendirinya akan mengucapkan “Bismillah”.

5⃣ Tahap Kelima : 
Apabila engkau dapati anak sudah bisa mengerti rukun-rukun islam dan iman, maka ajarilah ia.

Dalam hal ini tidak dibatasi pengajaran dengan ukuran umur, karena kefasihan dan kecerdasan masing-masing anak berbeda-beda.

Adapun rukun islam adalah sebagai berikut :

Dari Ibnu Abbas  رضي الله عنه , ia berkata : Rasulullahصلى الله عليه وسلم bersabda :

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَأنَّ مُحَمَّداً رَسُولُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ، وَحَجِّ البَيْتِ

Islam dibangun di atas lima perkara : bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa di Bulan Ramadhan dan berhaji ke Baitullah”. [Muttafaqun ‘alaih]


Sedangkan rukun iman adalah :

الإِيمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلاَئِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرَسُوْلِهِ وَتُؤْمِنَ بِالْبَعْثِ الآَخِرِ

Diriwayatkan dari Abu Hurairah berkata, Rasulullahصلى الله عليه وسلم bersabda :

“Al-Iman ialah beriman kepada Allah, malaikat,kitab, rasul-Nya dan beriman kepada hari kebangkitan”. [Muttafaqun ‘alaih]

Imam Muslim telah meriwayatkan sendirian dari hadits Umar bin Khathab .

Dan rukun ihsan ialah :

أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya dan jika kamu tidak melihat-Nya , maka sesungguhnya Dia Maha Melihatmu”. [HR. Muslim]

Telah berlaku takhrij hadits tersebut pada bagian sebelumnya.

6⃣ Tahap Keenam : 
Ajarilah anak tentang tata cara berwudhu’.

Bersambung…إن شاء الله


Sumber :
Kitab Nashihatiy Lin-Nisaa’ karya Ummu ‘Abdillah Al-Wadi’iyyah  حفظها الله

http://tamananakshalih.blogspot.com/


Category: 1. Tarbiyatul Aulad (Pendidikan Anak)

PENDIDIKAN ANAK 1

Mendidik anak itu suatu hal yang sulit. Maka para pendidik sangat membutuhkan kesabaran dan siasat (kecerdikan). Diantaranya, sebagian anak ada yang butuh perlakuan lembut, ramah dan tidak suka dibentak-bentak dan jika diperlakukan dengan kebalikannya dari hal itu, maka ia pun akan lebih sulit.

 

Sementara sebagian anak yang lainnya mungkin perlu untuk diperlakukan keras dengan tetap pada batas kewajaran dan jika berlebihan, maka akan menjadikan si anak lebih sulit dan tidak patuh arahan kedua orang tuanya.

 

Kita memohon kepada Allah سبحانه وتعالى semoga mengkaruniakan kepada kita kebaikan pemeliharaan dan tanggung jawab yang besar, yang berada di pundak orang tua.

 

Allah سبحانه وتعالى berfirman :

 

{….  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَار}

التحريم : ٦

 

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” [AT-Tahrim : 6]

 

Di dalam Ash-Shahihain dari hadits Abdullah bin Umar رضي الله عنهما ia berkata : Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :

 

,,كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ فَالْأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوجِهَا وَهِيَ مَسْئُولَةٌ وَالْعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ أَلَا فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُول,,ٌ

 

“Kalian semua adalah pemimpin dan kalian semua akan dimintai pertanggungjawaban, seorang imam adalah pemimpin dan ia nanti akan dimintai pertanggungjawaban, seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya dan ia nanti akan dimintai pertanggungjawaban, seorang wanita adalah pemimpin di dalam rumah suaminya dan ia nanti akan dimintai pertanggungjawaban, seorang budak adalah pemimpin atas harta majikannya dan ia nanti akan dimintai pertanggungjawaban, ketahuilah kalian semua adalah pemimpin dan kalian semua akan dimintai pertanggungjawabannya”.

 

Di samping itu, haruslah kerjasama antar suami dan istri dalam mendidik anak. Jika salah satu meremehkan kewajiban ini, niscaya akan terjadi kekurangan pada sisi yang semestinya ia harus berperan, kecuali bila Allah menghendaki lain.

 

Kemudian dalam mendidik anak haruslah menyesuaikan dengan tingkatan (tahapan) dan pemahaman seorang anak, dan perhatikanlah (wahai saudariku) perkara itu.

 

Misalnya sebagai berikut :

 

1⃣ Tahap Pertama :

Membimbing anak mengucapkan lafazh Allah عزوجل sambil memberi isyarat dengan telunjuk  ke langit.

 

2⃣ Tahap Kedua :

Jika memberi sepotong roti atau yang lainnya, berikanlah dengan tangan kanan.

 

3⃣ Tahap Ketiga :

Jika makanan masih panas, janganlah engkau meniupnya supaya dingin, karena Nabi صلى الله عليه وسلم melarang bernafas dalam tempat makanan atau minuman.

 

Seandainya si anak melihat orang yang melakukan itu, niscaya dengan cepat ia akan menirunya. Demikian juga dalam perkara lainnya. Semua ini merupakan bukti kebenaran sabda Nabi صلى الله عليه وسلم :

 

,,  كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَ الفِطْرَةِ فأَبَوَاهُ يُهَوِّ دَانَهُ أَوْيُنَصِّرَانَهُ أَوْيُمَجِّسَانِهِ,,

 

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanya yang akan menjadikannya Yahudi, Nashrani dan Majusi”.

 

Dalam Ash-Shahih Muslim dari hadits ‘Iyadh bin Himar رضي الله عنه, ia berkata “Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda : Allah سبحانه وتعالى berfirman :

 

,, إِنِّي خهَلَقْتُ عِبَادِيْ حُنَفَاءَفَاجْتَا لَتَهُمْ الشَّيْطَانُ ,,

 

“Sesungguhnya aku menciptakan hamba-hambaku dalam keadaan lurus (bertauhid), kemudian para syaithan mengelilingi mereka”.

 

 

Bersambung…إن شاء الله

 

 

Sumber :

Kitab Nashihatiy Lin-Nisaa’ karya Ummu ‘Abdillah Al-Wadi’iyyah  حفظها الله

 

 

http://tamananakshalih.blogspot.com/


Category: 1. Tarbiyatul Aulad (Pendidikan Anak)

NASEHAT INDAH SEORANG ULAMA DIDALAM MENDIDIK ANAK DIMASA GLOBALISASI

Category: 1. Tarbiyatul Aulad (Pendidikan Anak)

Pengaruh Orang Tua Terhadap Anak

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,


“Betapa banyak orang yang mencelakakan anaknya—belahan hatinya—di dunia dan di akhirat karena tidak memberi perhatian dan tidak memberikan pendidikan adab kepada mereka. Orang tua justru membantu si anak menuruti semua keinginan syahwatnya. Ia menyangka bahwa dengan berbuat demikian berarti dia telah memuliakan si anak, padahal sejatinya dia telah menghinakannya. Bahkan, dia beranggapan, ia telah memberikan kasih sayang kepada anak dengan berbuat demikian. Akhirnya, ia pun tidak bisa mengambil manfaat dari keberadaan anaknya. Si anak justru membuat orang tua terluput mendapat bagiannya di dunia dan di akhirat. Apabila engkau meneliti kerusakan yang terjadi pada anak, akan engkau dapati bahwa keumumannya bersumber dari orang tua.” (Tuhfatul Maudud hlm. 351)



Beliau rahimahullah menyatakan pula,


“Mayoritas anak menjadi rusak dengan sebab yang bersumber dari orang tua, dan tidak adanya perhatian mereka terhadap si anak, tidak adanya pendidikan tentang berbagai kewajiban agama dan sunnah-sunnahnya. Orang tua telah menyia-nyiakan anak selagi mereka masih kecil, sehingga anak tidak bisa memberi manfaat untuk dirinya sendiri dan orang tuanya ketika sudah lanjut usia. Ketika sebagian orang tua mencela anak karena kedurhakaannya, si anak menjawab, ‘Wahai ayah, engkau dahulu telah durhaka kepadaku saat aku kecil, maka aku sekarang mendurhakaimu ketika engkau telah lanjut usia. Engkau dahulu telah menyia-nyiakanku sebagai anak, maka sekarang aku pun menyia-nyiakanmu ketika engkau telah berusia lanjut’.” (Tuhfatul Maudud hlm. 337)



(Diambil dari Huququl Aulad ‘alal Aba’ wal Ummahat hlm. 8—9, karya asy-Syaikh Abdullah bin Abdirrahim al-Bukhari hafizhahullah)


Sumber: http://asysyariah.com/permata-salaf-pengaruh-orang-tua-terhadap-anak/

Category: 1. Tarbiyatul Aulad (Pendidikan Anak), 7. Belajar Lagi...

Kiat Memperlakukan Buah Hati

Penulis : Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin

Pahami anak sebagai individu yang berbeda. Seorang anak dengan yang lainnya memiliki karakter yang berbeda. Memiliki bakat dan minat yang berbeda pula. Karenanya, dalam menyerap ilmu dan mengamalkannya berbeda satu dengan yang lainnya.


Sering terjadi kasus, terutama pada pasangan muda, orangtua mengalami “sindroma” anak pertama. Karena didorong idealisme yang tinggi, mereka memperlakukan anak tanpa memerhatikan aspek-aspek perkembangan dan pertumbuhan anak. Misal, anak dipompa untuk bisa menulis dan membaca pada usia 2 tahun, tanpa memerhatikan tingkat kemampuan dan motorik halus (kemampuan mengoordinasikan gerakan tangan) anak.

فَاتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” (At-Taghabun: 16)

Hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَاجْتَنِبُوهُ وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ

Apabila aku melarangmu dari sesuatu maka jauhi dia. Bila aku perintahkan kamu suatu perkara maka tunaikanlah semampumu.” (HR. Al-Bukhari, no. 7288)

Kata مَا اسْتَطَعْتُمْ (semampumu) menunjukkan kemampuan dan kesanggupan seseorang berbeda-beda, bertingkat-tingkat, satu dengan lainnya tidak bisa disamakan. Ini semua karena pengaruh berbagai macam latar belakang.


* Memberi tugas hendaklah sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan anak.


لَا يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Al-Baqarah: 286)


* Berusahalah untuk selalu menghargai niat, usaha dan kesungguhan anak.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk rupa dan harta kalian, tapi Allah melihat kepada hati (niat) dan amal-amal kalian.” (HR. Muslim no. 2564)


* Jangan mencaci maki anak karena kegagalannya. Tapi berikan ungkapan-ungkapan yang bisa memotivasi anak untuk bangkit dari kegagalannya. Misal, “Abi tidak marah kok, Ahmad belum hafal surat Yasin. Abi tahu, Ahmad sudah berusaha menghafal. Lain kali, kita coba lagi ya.”


* Tidak membentak, memaki dan merendahkan anak. Apalagi di hadapan teman-temannya atau di hadapan umum. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا

Dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.” (An-Nisa`: 5)


* Tidak membuka aib (kekurangan, kejelekan) yang ada pada anak di hadapan orang lain. Dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Barangsiapa menutup (aib) seorang muslim, Allah akan menutup (aib) dirinya pada hari kiamat.” (HR. Al-Bukhari no. 2442)


* Jika anak melakukan kesalahan, jangan hanya menunjukkan kesalahannya semata. Tapi berilah solusi dengan memberitahu perbuatan yang benar yang seharusnya dia lakukan. Tentunya, dengan cara yang hikmah. ‘Umar bin Abi Salamah radhiyallahu ‘anhu berkata:

كُنْتُ غُلَامًا فِي حِجْرِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَكَانَتْ يَدِي تَطِيشُ فِي الصَّحْفَةِ فَقَالَ لِي رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: يَا غُلَامُ، سَمِّ اللهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيْكَ

Saat saya masih kecil dalam asuhan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, saya menggerak-gerakkan tangan di dalam nampan (yang ada makanannya). Lantas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menasihatiku, ‘Wahai ananda, sebutlah nama Allah (yaitu bacalah Bismillah saat hendak makan). Makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari makanan yang ada di sisi dekatmu’.” (HR. Al-Bukhari no. 5376)


* Tidak memanggil atau menyeru anak dengan sebutan yang jelek.

Seperti perkataan: “Dasar bodoh!” Ini berdasarkan hadits Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ إِلاَّ بِخَيْرٍ فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ يُؤَمِّنُونَ عَلَى مَاتَقُولُونَ

Janganlah kalian menyeru (berdoa) atas diri kalian kecuali dengan sesuatu yang baik. Karena, sesungguhnya malaikat akan mengaminkan atas apa yang kalian ucapkan.” (HR. Muslim no. 920)


* Perbanyak ucapan-ucapan yang mengandung muatan doa pada saat di hadapan anak.

Seperti ucapan:

بَارَكَ اللهُ فِيْكُمْ

“Semoga Allah memberkahi kalian.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

Serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.” (Al-Baqarah: 83)

Juga selalu mendoakan kebaikan bagi sang anak, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Dan orang-orang yang berkata: ‘Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa’.” (Al-Furqan: 74)


* Berusahalah untuk senantiasa berlaku hikmah dalam menghadapi masalah anak.

Tidak mengedepankan emosi. Tidak mudah menjatuhkan sanksi. Telusuri setiap masalah yang ada pada anak dengan penuh hikmah, tabayyun (klarifikasi). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا

Dan barangsiapa yang dianugerahi al-hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak.” (Al-Baqarah: 269)


* Berusahalah bersikap adil terhadap anak-anak dan berbuat baik kepadanya.

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (An-Nahl: 90)


* Hindari sikap-sikap dan tindakan yang menjadikan anak mengalami trauma, blocking (mogok), malas atau enggan belajar. Sebaliknya, ciptakan suasana yang menyenangkan dalam belajar. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَسِّرُوا وَلاَ تُعَسِّرُوا، بَشِّرُوا وَلاَ تُنَفِّرُوا

Permudah dan jangan kalian persulit. Gembirakan, dan jangan kalian membuat (mereka) lari.” (HR. Al-Bukhari no. 69)

Wallahu a’lam.


Sumber: http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=702

Category: 1. Tarbiyatul Aulad (Pendidikan Anak), 7. Belajar Lagi...

Perkembangan Anak


Perkembangan anak penting dijadikan perhatian khusus bagi orangtua. Sebab, proses tumbuh kembang anak akan mempengaruhi kehidupan mereka pada masa mendatang.

Jika perkembangan anak luput dari perhatian orangtua (tanpa arahan dan pendampingan orangtua), maka anak akan tumbuh seadanya sesuai dengan yang hadir dan menghampiri mereka.

Kelak, orangtua akan mengalami penyesalan yang mendalam.

Apa saja tahapan perkembangan anak?
Perkembangan anak merupakan segala perubahan yang terjadi pada usia anak, yaitu pada masa:

* Infancy toddlerhood (usia 0-3 tahun)
* Early childhood (usia 3-6 tahun)
* Middle childhood (usia 6-11 tahun)

Perubahan yang terjadi pada diri anak tersebut meliputi perubahan pada aspek berikut:

* fisik (motorik)
* emosi
* kognitif
* psikososial

Aspek-aspek perkembangan anak

1. Perkembangan Fisik (Motorik)
Perkembangan fisik (motorik) merupakan proses tumbuh kembang kemampuan gerak seorang anak. Setiap gerakan yang dilakukan anak merupakan hasil pola interaksi yang kompleks dari berbagai bagian dan sistem dalam tubuh yang dikontrol oleh otak.

Perkembangan fisik (motorik) meliputi perkembangan motorik kasar dan motorik halus.

* Perkembangan motorik kasar
Kemampuan anak untuk duduk, berlari, dan melompat termasuk contoh perkembangan motorik kasar. Otot-otot besar dan sebagian atau seluruh anggota tubuh digunakan oleh anak untuk melakukan gerakan tubuh.

Perkembangan motorik kasar dipengaruhi oleh proses kematangan anak. Karena proses kematangan setiap anak berbeda, maka laju perkembangan seorang anak bisa saja berbeda dengan anak lainnya.

* Perkembangan motorik halus
Adapun perkembangan motorik halus merupakan perkembangan gerakan anak yang menggunakan otot-otot kecil atau sebagian anggota tubuh tertentu.

Perkembangan pada aspek ini dipengaruhi oleh kesempatan anak untuk belajar dan berlatih. Kemampuan menulis, menggunting, dan menyusun balok termasuk contoh gerakan motorik halus.

2. Perkembangan Emosi
Perkembangan pada aspek ini meliputi kemampuan anak untuk mencintai; merasa nyaman, berani, gembira, takut, dan marah; serta bentuk-bentuk emosi lainnya. Pada aspek ini, anak sangat dipengaruhi oleh interaksi dengan orangtua dan orang-orang di sekitarnya.

Emosi yang berkembang akan sesuai dengan impuls emosi yang diterimanya. Misalnya, jika anak mendapatkan curahan kasih sayang, mereka akan belajar untuk menyayangi.

3. Perkembangan Kognitif
Pada aspek koginitif, perkembangan anak nampak pada kemampuannya dalam menerima, mengolah, dan memahami informasi-informasi yang sampai kepadanya. Kemampuan kognitif berkaitan dengan perkembangan berbahasa (bahasa lisan maupun isyarat), memahami kata, dan berbicara.

4. Perkembangan Psikososial
Aspek psikososial berkaitan dengan kemampuan anak untuk berinteraksi dengan lingkungannya. Misalnya, kemampuan anak untuk menyapa dan bermain bersama teman-teman sebayanya.

Dengan mengetahui aspek-aspek perkembangan anak, orangtua dan pendidik bisa merancang dan memberikan rangsangan serta latihan agar keempat aspek tersebut berkembang secara seimbang.

Rangsangan atau latihan tidak bisa terfokus hanya pada satu atau sebagian aspek. Tentunya, rangsangan dan latihan tersebut diberikan dengan tetap memerhatikan kesiapan anak, bukan dengan paksaan.

Sumber : www.asianbrain.com


Category: 1. Tarbiyatul Aulad (Pendidikan Anak), 7. Belajar Lagi...